Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Toko Siwak KAMYABI on line

Blog EntryDec 3, '07 7:10 PM
for everyone

Siwak :

Keajaiban dalam Sunnah Nabi

Abu Salma M. Rachdie P., S.Si

 

 Sejarah Penggunaan Siwak (Salvadora persica)

Penggunaan alat-alat kebersihan mulut telah dimulai semenjak berabad-abad lalu. Manusia terdahulu menggunakan alat-alat kebersihan yang bermacam-macam seiring dengan perkembangan sosial, teknologi dan budaya. Beraneka ragam peralatan sederhana dipergunakan untuk membersihkan mulut mereka dari sisa-sisa makanan, mulai dari tusuk gigi, batang kayu, ranting pohon, kain, bulu burung, tulang hewan hingga duri landak. Diantara peralatan tradisional yang mereka gunakan dalam membersihkan mulut dan gigi adalah kayu siwak atau chewing stick. Kayu ini walaupun tradisional, merupakan langkah pertama transisi/peralihan kepada sikat gigi modern dan merupakan alat pembersih mulut terbaik hingga saat ini.

Miswak (Chewing Stick) telah digunakan oleh orang Babilonia semenjak 7000 tahun yang lalu, yang mana kemudian digunakan pula di zaman kerajaan Yunani dan Romawi, oleh orang-orang Yahudi, Mesir dan masyarakat kerajaan Islam. Siwak memiliki nama-nama lain di setiap komunitas, seperti misalnya di Timur Tengah disebut dengan miswak, siwak atau arak, di Tanzania disebut miswak, dan di Pakistan dan India disebut dengan datan atau miswak. Penggunaan chewing stick (kayu kunyah) berasal dari tanaman yang berbeda-beda pada setiap negeri. Di Timur Tengah, sumber utama yang sering digunakan adalah pohon Arak (Salvadora persica), di Afrika Barat yang digunakan adalah pohon limun (Citrus aurantifolia) dan pohon jeruk (Citrus sinesis). Akar tanaman Senna (Cassiva vinea) digunakan oleh orang Amerika berkulit hitam, Laburnum Afrika (Cassia sieberianba) digunakan di Sierre Leone serta Neem (Azadirachta indica) digunakan secara meluas di benua India.

Meskipun siwak sebelumnya telah digunakan dalam berbagai macam kultur dan budaya di seluruh dunia, namun pengaruh penyebaran agama Islam dan penerapannya untuk membersihkan gigi yang paling berpengaruh. Istilah siwak sendiri pada kenyatannya telah umum dipakai selama masa kenabian Nabi Muhammad yang memulai misinya sekitar 543 M. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Seandainya tidak memberatkan ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat (dalam riwayat lain : setiap akan berwudhu’).” Nabi memandang kesehatan dan kebersihan mulut adalah penting, sehingga beliau senantiasa menganjurkan pada isterinya untuk selalu menyiapkan siwak untuknya hingga akhir hayatnya.

Siwak terus digunakan hampir di seluruh bagian Timur Tengah, Pakistan, Nepal, India, Afrika dan Malaysia, khususnya di daerah pedalaman. Sebagian besar mereka menggunakannya karena faktor religi, budaya dan sosial. Ummat Islam di Timur Tengah dan sekitarnya menggunakan siwak minimal 5 kali sehari disamping juga mereka menggunakan sikat gigi biasa. Penelitian yang dilakukan oleh Erwin dan Lewis (1989) menyatakan bahwa pengguna siwak memiliki relativitas yang rendah dijangkiti kerusakan dan penyakit gigi meskipun mereka mengkonsumsi bahan makanan yang kaya akan karbohidrat.

 

Morfologi dan Habitat Tanaman Siwak

Siwak atau Miswak, merupakan bagian dari batang, akar atau ranting tumbuhan Salvadora persica yang kebanyakan tumbuh di daerah Timur Tengah, Asia dan Afrika. Siwak berbentuk batang yang diambil dari akar dan ranting tanaman arak (Salvadora persica) yang berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm. Pohon arak adalah pohon yang kecil seperti belukar dengan batang yang bercabang-cabang, berdiameter lebih dari 1 kaki. Jika kulitnya dikelupas berwarna agak keputihan dan memiliki banyak juntaian serat. Akarnya berwarna cokelat dan bagian dalamnya berwarna putih. Aromanya seperti seledri dan rasanya agak pedas.

Siwak berfungsi mengikis dan membersihkan bagian dalam mulut. Kata siwak sendiri berasal dari bahasa arab ‘yudlik’ yang artinya adalah memijat (massage). Siwak lebih dari sekedar sikat gigi biasa, karena selain memiliki serat batang yang elastis dan tidak merusak gigi walaupun di bawah tekanan yang keras, siwak juga memiliki kandungan alami antimikrobial dan antidecay system (sistem antipembusuk). Batang siwak yang berdiameter kecil, memiliki kemampuan fleksibilitas yang tinggi untuk menekuk ke daerah mulut secara tepat dan dapat mengikis plak pada gigi. Siwak juga aman dan sehat bagi perkembangan gusi.

 

Kandungan Kimia Batang Kayu Siwak

Al-Lafi dan Ababneh (1995) melakukan penelitian terhadap kayu siwak dan melaporkan bahwa siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri, mengikis plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, meliputi :

  • Antibacterial Acids, seperti astringents, abrasive dan detergent yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi, menghentikan pendarahan pada gusi. Penggunaan kayu siwak yang segar pertama kali, akan terasa agak pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard yang merupakan substansi antibacterial acid tersebut.

  • Kandungan kimiawi seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluorida, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimetilamin, Salvadorin, Tannin dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.

  • Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, yang dapat menyegarkan mulut dan menghilangkan bau tidak sedap.

  • Enzim yang mencegah pembentukan plak yang merupakan penyebab radang gusi dan penyebab utama tanggalnya gigi secara prematur.

  • Anti Decay Agent (Zat anti pembusukan) dan Antigermal System, yang bertindak seperti Penicilin menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah terjadinya proses pembusukan. Siwak juga turut merangsang produksi saliva, dimana saliva sendiri merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.

Menurut laporan Lewis (1982), penelitian kimiawi terhadap tanaman ini telah dilakukan semenjak abad ke-19, dan ditemukan sejumlah besar klorida, fluor, trimetilamin dan resin. Kemudian dari hasil penelitian Farooqi dan Srivastava (1990) ditemukan silika, sulfur dan vitamin C. Kandungan kimia tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut dimana trimetilamin dan vitamin C membantu penyembuhan dan perbaikan jaringan gusi. Klorida bermanfaat untuk menghilangkan noda pada gigi, sedangkan silika dapat bereaksi sebagai penggosok. Kemudian keberadaan sulfur dikenal dengan rasa hangat dan baunya yang khas, adapun fluorida berguna bagi kesehatan gigi sebagai pencegah terjadinya karies dengan memperkuat lapisan email dan mengurangi larutnya terhadap asam yang dihasilkan oleh bakteri.

 

Siwak sebagai zat antibakterial

El-Mostehy dkk (1998) melaporkan bahwa tanaman siwak mengandung zat-zat antibakterial. Darout et al. (2000) Melaporkan bahwa antimikrobial dan efek pembersih pada miswak telah ditunjukkan oleh variasi kandungan kimiawi yang dapat terdeteksi pada ekstraknya. Efek ini dipercaya berhubungan dengan tingginya kandungan Sodium Klorida dan Pottasium Klorida seperti salvadourea dan salvadorine, saponin, tannin, vitamin C, silika dan resin, juga cyanogenic glycoside dan benzylsothio-cyanate. Hal ini dilaporkan bahwa komponen anionik alami terdapat pada spesies tanaman ini yang mengandung agen antimikrobial yang melawan beberapa bakteri. Nitrat (NO3-) dilaporkan mempengaruhi transportasi aktif porline pada Escherichia coli seperti juga pada aldosa dari E. coli dan Streptococcus faecalis. Nitrat juga mempengaruhi transport aktif oksidasi fosforilasi dan pengambilan oksigen oleh Pseudomonas aeruginosa dan Stapyhylococcus aureus sehingga terhambat.

Menurut hasil penelitian Gazi et al. (1987) ekstrak kasar batang kayu siwak pada pasta gigi yang dijadikan cairan kumur, dikaji sifat-sifat antiplaknya dan efeknya terhadap komposisi bakteri yang menyusun plak dan menyebabkan penurunan bakteri gram negatif batang.

Penyusun (2005) di dalam skripsi yang berjudul “Pengaruh Ekstrak Serbuk Kayu Siwak (Salvadora persica) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans Dan Staphylococcus aureus Dengan Metode Difusi Lempeng Agar” menemukan bahwa ekstrak serbuk kayu siwak bersifat antibakterial sedang terhadap bakteri S. mutans dan S. aureus.

 

Siwak sebagai “oral cleaner device” (alat pembersih mulut)

Siwak sangat efektif sebagai alat pembersih mulut. Almas (2002) meneliti perbandingan pengaruh antara ekstrak siwak dengan Chlorhexidine Gluconate (CHX) yang sering digunakan sebagai cairan kumur (mouthwash) dan zat anti plak pada dentin manusia dengan SEM (Scanning Electron Microscopy). Almas melaporkan bahwa 50% ekstrak siwak dan CHX 0,2% memiliki efek yang sama pada dentin manusia, namun ekstrak siwak lebih banyak menghilangkan lapisan noda-noda (Smear layer) pada dentin.

Sebuah penelitian tentang Periodontal Treatment (Perawatan gigi secara berkala) dengan mengambil sampel terhadap 480 orang dewasa berusia 35-65 tahun di kota Makkah dan Jeddah oleh para peneliti dari King Abdul Aziz University Jeddah, menunjukkan bahwa Periodontal Treatment untuk masyarakat Makkah dan Jeddah adalah lebih rendah daripada treatment yang harus diberikan kepada masyarakat di negara lain, hal ini mengindikasikan rendahnya kebutuhan masyarakat Makkah dan Jeddah terhadap Periodontal Treatment.

Penelitian lain dengan menjadikan serbuk (powder) siwak sebagai bahan tambahan pada pasta gigi dibandingkan dengan penggunaan pasta gigi tanpa campuran serbuk siwak menunjukkan bahwa prosentase hasil terbaik bagi kesehatan gigi secara sempurna adalah dengan menggunakan pasta gigi dengan butiran-butiran serbuk siwak, karena butiran-butiran serbuk siwak tersebut mampu menjangkau sela-sela gigi secara sempurna dan mengeluarkan sisa-sisa makanan yang masih bersarang pada sela-sela gigi. Hal ini yang mendorong perusahaan-perusahaan pasta gigi di dunia menyertakan serbuk siwak ke dalam produk pasta gigi mereka. WHO (World Health Organization) turut menjadikan siwak sebagai salah satu komoditas kesehatan yang perlu dipelihara dan dibudidayakan.

 

(Diadopsi dari Skripsi penyusun yang berjudul “PENGARUH EKSTRAK SERBUK KAYU SIWAK (Salvadora persica) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans DAN Staphylococcus aureus DENGAN METODE DIFUSI LEMPENG AGAR), 2005, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.


Blog EntryDec 3, '07 7:06 PM
for everyone

Flouride, yg selama ini digembar gemborkan baik untuk gigi dan terdapat
didalam setiap pasta gigi, ternyata melalui berbagai penelitian yang
dapat dipercaya dari berbagai belahan dunia terbukti menunjukkan fakta
yg sebaliknya.
Tapi kenapa hal ini ditutup-tutupi? AJAIB!

Sebelum anda membaca tulisan dibawah ini, yg mungkin anda tidak percaya,
lakukan ini:
Masuk ke Google.com, lalu ketiklah kata kunci Fluoride! Lalu anda
(harusnya) akan terbelalak kaget.

Robert Carlton,Ph. D., mantan ilmuan EPA AS di 'Marketplace' Perusahaan
Broadcast Canada, pd 24 November 1992 menyebut Fluoridasi adalah KASUS
PENIPUAN ILMIAH TERBESAR DI ABAD INI!!! (situs anglicancommunion.org)

Prof. Albert Schatz Ph.D. (Ahli Mikrobiologi) Penemu Streptomycin dan
Pemenang Nobel. : 'Fluoridasi adalah PENIPUAN TERJAHAT untuk mengeruk
keuntungan yg pernah dilakukan dan itu menelan korban lebih banyak dari
pada bentuk penipuan lainnya.'

Dr. Charles Gordon Heyd, Mantan Presiden Asosiasi Kesehatan Amerika :
'Fluoride adalah RACUN YANG BISA MENGGEROGOTI; akan menyebabkan DAMPAK
yang SERIUS DLM JANGKA PANJANG.

Agustus 2002, BELGIA MENJADI NEGARA PERTAMA DI DUNIA yg MELARANG
penggunaan berbagai suplemen FLUORIDE, tablet, obat tetes, permen karet,
dll yg berfluoride DITARIK DARI PASARAN KARENA BERACUN dan menyebabkan
RESIKO BESAR bagi kesehatan fisik maupun psikologis. Keputusan ini
dikeluarkan Menteri Kesehatan Masyarakat Federal (
shirleys-wellness-cafe.com/#belgium)

FLUORIDE TIDAK MEMBERI EFEK MENYEHATKAN DALAM MENCEGAH KERUSAKAN GIGI
DAN TULANG PADA MANUSIA. Th 1990 Dr. John Colquhoun melakukan penelitian
pada 60.000 anak sekolah dan tidak menemukan perbedaan kerusakan pada
gigi antara yg menggunakan fluoride dan yg tidak, bahkan itu ia
menemukan sejumlah anak pada wilayah yg diberi fluoride menderita
keropos gigi yg disebut FLUOROSIS.

98% wilayah Eropa Barat telah menolak fluoridasi air, termasuk Austria,
Belgia, Denmark, Prancis, Italia, Luxembourgh, Jerman, Belanda,
Finlandia, Swedia dan Norwegia.

Fluoride adalah zat kimia kunci dalam memproduksi BOM ATOM!!! Fluoride
sangat esensial untuk memproduksi Bom Uranium dan Plutonium untuk
membuat senjata nuklir selama Perang Dingin. Salah satu zat kimia yg
dikenal PALING BERACUN adalah FLUORIDE, yg muncul secara cepat sebagai
racun kimiawi dari program bom atom Amerika serikat, baik untuk
pekerjanya maupun masyarakat sekitar.
(Situs rvi.net/~fluoride/fluoride_teeth_atomic_bomb_.htm)

Isi dari Tube Pasta Gigi yg mengandung Fluoride ukuran keluarga cukup
untuk membunuh anak seberat 12 Kilogram!!! (situs
all-natural.com/fleffect.html)

Sebagian besar bangsa Eropa, termasuk Jerman, Belanda, Swedia, dan
Prancis MELARANG PENGGUNAAN FLUORIDE dalam tempat-tempat kesehatan
masyarakat. (situs chemtrailpatrol.com/cpr_fluoride_menu.htm)

Efek biologis Fluoride
(dlm buku Flouride the Aging Factor-Dr.John Yiamouyiannis):
- Gigi Fluorosis (keropos) merupakan tanda pertama kontaminasi fluoride.

- kerusakan gigi (pada stadium lanjut-gigi bergaris-garis gelap terlihat
seperti lubang) dan gigi tanggal.
- penelitian di Cina, pemberian fluoride dg dosis rendah pun telah
menyebabkan berkurangnya kecerdasan pada anak-anak
- Penuaan Dini
- Aborsi Spontan
- Tulang yang rapuh
- Kanker,-Fluoride bersifat Carcinogenic (PENYEBAB KANKER): Departemen
Kesehatan New Jersey mengkonfirmasi bhw terjadi peningkatan 6.9% kasus
tulang melengkung akibat kanker tulang pada anak muda dalam komunitas yg
menggunakan fluoride, dan peningkatan 5% dalam SEMUA JENIS KANKER dalam
komunitas yg menggunakan Fluoride. Dean Burk, Kepala Bagian Kimia
Institut Kanker Nasional mengakui dlm dengar pendapat dengan kongres,
bahwa SEDIKITNYA 40.000 KEMATIAN KARENA KANKER di tahun 1981 BERKAITAN
DENGAN FLUORIDE!
Burk menyatakan bahwa FLUORIDE LEBIH MENYEBABKAN KANKER DAN MERUPAKAN
PENYEBAB TERCEPAT DARI PADA ZAT KIMIA LAINNYA.

Tapi selain yang dijelaskan buku itu, ternyata ada juga 'manfaat'
fluoride dibawah ini:

- Tidak berfungsinya Thyroid. Diidentifikasi sbg hypothyroidism.
- Kerusakan pada sistem berpikir.
- Kebutaan (penelitian Moolenburgh mengenai air yg ditambah 1ppm
Fluoride)
- Penyakit Alzheimer-Jurnal Wall Street 28 okt 92 tentang
penelitian Varnier JA., 'tikus percobaan yg mengkonsumsi fluoride dengan
dosis tinggi berkembang dengan tahap yg tidak beraturan memiliki
karakteristik hewan yg telah PIKUN. Pengujian otak tikus-tikus pasca
percobaan mengungkap adanya SUBSTANSI SEL OTAK YANG HILANG dalam
struktur. ( sightings.com/health/fluoridetruth.htm)
- Kemandulan. Ilmuwan Administrasi Makanan dan Obat (FDA)
melaporkan korelasi yg erat antara menurunnya tingkat kesuburan
perempuan kelompok usia 10-49 dg meningkatnya penggunaan fluoride.
- Kerusakan Otak. Fluoride menurunkan kapasitas kecerdasan
manusia, terutama Anak-anak. Tingkat kecerdasan anak-anak yg menggunakan
fluoride SECARA SIGNIFIKAN lebih rendah dari anak2 yg tidak diberikan
fluoride. (Li, X.S., Zhi, J.L., Gao, R. O., 'Efek pemberian Fluoride
Terhadap Tingkat Kecerdasan Anak-anak,' Fluoride; 28:182-189, 1995).
Percobaan Dr. Phyllis Mullinex terhadap tikus menunjukkan efek keracunan
syaraf yg bervariasi pada setiap tahap kedewasaan, baik hewan dewasa,
hewan anak-anak, atau melalui placenta ketika bayi masih didaalam perut.
Sampel yg mendapatkan fluoride sebelum lahir akan terlahir sebagai anak
hiperaktif DAN AKAN TETAP SEPERTI ITU SEPANJANG HIDUPNYA. Mereka yg
diberi fluoride ketika berusia muda menunjukkan aktivitas yang DEPRESIF.
Tahun 1998 Guan et al. memberi dosis yg sama dengan yg digunakkan
Mullenix dan menemukan pada percobaannya bahwa beberapa zat kimia kunci
dalam otak, ZAT YG MEMBENTUK SELAPUT SEL OTAK, pada tikus yg diberi
Fluoride
tidak terlihat/ KOSONG.
- Keretakkan pada tulang pinggul. Air minum yg mengandung
Fluoride akan menyebabkan KERETAKKAN TULANG PINGGUL 2 KALI LIPAT
(200%!!!) dari jumlah keretakkan tulang alami, baik pada laki2 maupun
perempuan. Bahkan tingkat yg sangat kecil dari Fluoride sejumlah 0.1 ppm
pun tetap saja menunjukkan kenaikan angka statistik keretakkan tulang
pinggul yg signifikan (Bordeaux Penelitian JAMA 1994)
- Osteoporosis (keropos tulang), kerangka tulang tidak
beraturan, dan Arthritis (Asam Urat). Para ilmuwan EPA Washington
mengumumkan bahwa meningkatnya jumlah orang yg memiliki gejala
'carpal-tunnel' dan sakit asam urat diakibatkan oleh proses fluoridasi
dalam air minum. Dan di India Tengah, pencemaran fluoride pada air
akibat sebuah penggalian yg tidak melalui pengujian, menyebabkan
PENDERITAAN ASAM URAT YANG SERIUS PADA JUTAAN ORANG!!! Yang merupakan
BENCANA NASIONAL. (Manchester Guardian 9 July 1998). Pelayanan Kesehatan
Masyarakat AS telah menyatakan bahwa fluoride membuat TULANG LEBIH RAPUH
dan EMAIL GIGI LEBIH MUDAH MENYERAPNYA (kandungan fluoride dlm pasta
gigi)
- Penggunaan Fluoride selama masa kehamilan hingga setahun
meningkatkan 1% KETIDAK MAMPUAN BELAJAR pada anak-anak. (Penelitian
Universitas Florida Selatan)
- Flouride memiliki pengaruh negatif pada sistem syaraf dan
sistem kekebalan tubuh, dan pada anak-anak dapat mengarah pada kelelahan
kronis, IQ yg rendah, tidak mampu belajar, kelesuan dan depresi (Situs
bruha.com/fluoride/)
- Dr. Phyllis Mullenix dari Institut Penelitian Forsyth
Universitas Harvard (Institut penelitian gigi) menerbitkan sebuah
penelitian yg menunjukkan bhw FLUORIDE LEBIH EFEKTIF DARI PADA TIMAH DLM
MENURUNKAN TINGKAT IQ pada anak-anak. (situs naturalrearing.com)
- Penelitian kanker oleh Program Toxicology Nasional melaporkan
sampel yg diberi fluoride memiliki TUMOR THYROID, TUMOR RONGGA MULUT,
DAN TUMOR HATI YANG SEBENARNYA JARANG TERJADI.
- Penelitian baru2 ini di Jurnal Penelitian Otak mendapati 1 ppm
fluoride dalam air akan meningkatkan kandungan alumunium dalam otak
tikus percobaan dan memproduksi sejenis zat yg merusak otak (amyloid
deposits) berhubungan dengan penyakit Alzheimers dan jenis2 lain dari
kegilaan.
- Penelitian selanjutnya terhadap binatang percobaan mendapati
fluoride dapat menghambat kelenjar pineal yg memproduksi melatonin,
hormon yg membantu mengatur berbagai perubahan pada masa pubertas. Dlm
penelitian ini, hewan yg diberi fluoride berkurang tingkat metabolisme
melatoninnya dlm air seni mereka, dan lebih awal mengalami perubahan2
masa pubertas. ( mercola.com/2002/jan/30/flouridation_facts.htm)
- TUMOR TULANG ditemukan pada hewan percobaan SEBAGAI REAKSI
LANGSUNG PEMBERIAN FLUORIDE. (Program Nasional Pemerintah Federal
AS-bagian DEPKES dan Pelayanan Masyarakat th 1990)

Ternyata capek juga lho menulisnya.
Silahkan anda teruskan pencariannya ya? Dan kolo udah capek juga,
silakan buang pasta gigi anda jauh-jauh, dan tolong beri tahu semua
orang yg anda sayang.

Solusinya?

Yg sudah saya temukan saat ini, pembersih dan penjaga kesehatan mulut yg
tidak mengandung fluoride, alkohol, sodium lauryl sulfate, dan sorbitol
(bahan2 berbahaya yg umum dlm pasta gigi/ mouthwash) adalah mouthwash
dari Mustika Ratu-Indonesia, dengan 2 pilihan, yaitu cengkeh dan sirih.
(ini sama sekali bukan promosi), tapi bentuk pasta-nya belum saya
temukan. Atau pilihan lain yang paling aman, adalah menggunakan kayu
siwak.



Blog EntryDec 3, '07 7:00 PM
for everyone
PROPOSAL SKRIPSI

PENGARUH EKSTRAK SERBUK KAYU SIWAK (Salvadora persica) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans DAN Staphylococcus aureus DENGAN METODE DIFUSI AGAR

Penyusun :
Moch Rachdie Pratama
NRP. 1500.100.017

PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
2005


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penggunaan kayu siwak (Salvadora persica) telah dikenal semenjak berabad-abad lalu, terutama oleh bangsa Arab kuno yang hingga sekarang masih digunakan sebagai alat kebersihan mulut. Faktor sosial dan agama menjadi pendorong utama penggunaan kayu siwak (Salvadora persica) terutama bagi masyarakat muslim. Suatu studi komparatif periodontal treatment yang dilakukan terhadap pengguna siwak dengan non pengguna siwak menunjukkan bahwa tingkat masyarakat pengguna siwak memiliki level periodontal treatment yang lebih rendah dibandingkan masyarakat non pengguna siwak (Al-Lafi dan Ababneh, 1995).
Penelitian tentang analisa kandungan batang kayu siwak kering (Salvadora persica) dengan ekstraksi menggunakan etanol 80% kemudian dilanjutkan dengan ether lalu diteliti kandungannya melalui prosedur kimia ECP (Exhaustive Chemical Procedure) menunjukkan bahwa siwak mengandung zat-zat kimia seperti : trimetilamin, alkaloid yang diduga sebagai salvadorin, klorida, sejumlah besar fluorida dan silika, sulfur, vitamin C, serta sejumlah kecil tannin, saponin, flavenoid dan sterol. (El-Mostehy, et. al., 1995). Ekstrak siwak juga menunjukkan adanya properti antimikrobial terutama antibakterial yang sangat efektif dalam membunuh dan menghambat beberapa pertumbuhan bakteri dan antifungal (al-Lafi dan Ababneh, 1995; Darout et. al., 2000).
Darout dkk. (2000) melaporkan bahwa komponen kimiawi ekstrak kayu siwak sangat ampuh dalam menghilangkan plak dan mereduksi virulensi bakteri periodontopathogenic. Kandungan anionik alami dalam siwak dipercaya sebagai antimikrobial efektif di dalam menghambat dan membunuh mikrobial. Seperti Nitrat dilaporkan mempengaruhi transpor aktif porline pada Eschericia coli dan terbukti ampuh pula di dalam menghambat fosforilasi oksidatif dan pengambilan oksigen Pseudomonas aureginosa dan Staphylococcus aureus. Hipotiosianat menunjukkan bereaksi dengan grup sulfihidril dalam enzim bakteri yang dapat menyebabkan kematian bakteri.
Zat antimikrobial merupakan zat yang mengganggu pertumbuhan dan metabolisme mikroorganisme (Boyd and Marr, 1980). Al-Lafi dkk (1995) telah menguji aktivitas antibakterial dari kayu siwak untuk menghambat beberapa bakteri mulut yang aerob dan anaerob. Menurut hasil penelitian Gazi dkk. (1987), ekstrak kasar kayu siwak yang dijadikan cairan kumur dan dikaji sifat-sifat antiplaknya beserta efeknya terhadap bakteri penyusun plak menyebabkan penurunan drastis bakteri gram negatif batang. Almas (2003) meneliti efektifitas ekstrak siwak 50% dibandingkan dengan CHX (Chlorhexidine Gluconate) 0,2% pada dentin manusia secara SEM (Scanning Electrony Microscopy) menunjukkan bahwa ekstrak siwak 50% memiliki hasil yang sama dengan CHX 0,2% di dalam perlindungan dentin, namun ekstrak siwak 50% lebih dapat menghilangkan smear layer pada dentin dibandingkan CHX 0,2%.
Streptococcus mutans merupakan bakteri patogen pada mulut yang merupakan agen utama penyebab timbulnya plak, gingivitis dan caries gigi (Lee et al., 1992). Bakteri ini diujikan untuk melihat efektifitas ekstrak serbuk kayu siwak terhadap bakteri patogen mulut. Sedangkan Staphylococcus aureus merupakan bakteri penyebab intoksitasi dan terjadinya berbagai macam infeksi seperti pada jerawat, bisul, pneumonia dan lainnya (Supardi dan Sukamto, 1999). Penulis sengaja menggunakan bakteri Staphylococcus aureus untuk melihat kemampuan ekstrak serbuk kayu siwak terhadap bakteri patogen pada kulit dan luka ini.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan uji antibakterial ekstrak serbuk kayu siwak (Salvadora persica) yang diekstrak dengan menggunakan metode Fluida Super Critis. Hasil ekstrak dengan metode Fluida Super Critis ini dipercaya memiliki kemurnian yang lebih dibandingkan dengan metode konvensional yang selama ini sering digunakan. Hasil ekstraksi tersebut diuji dengan metode difusi lempeng agar dengan mengukur diameter zona terang (Clear zone) yang mana hasil pengukuran merupakan respon penghambatan pertumbuhan yang akan diklasifikasikan menurut Ahn dkk. (1994).

1.2. Permasalahan


Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh ekstrak serbuk kayu siwak (Salvadora persica) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dan Staphylococcus aureus dan besar daya hambat ekstrak serbuk kayu siwak (Salvadora persica) terhadap bakteri S. mutans dan S. aureus.

1.3. Tujuan


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi daya hambat ekstrak serbuk kayu siwak (S. persica) yang terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dan Staphylococcus aureus.
1.4. Manfaat

Ekstrak serbuk kayu siwak (Salvadora persica) mengandung bahan-bahan kimiawi yang dapat menekan aktivitas mikrobial dan menghambat pertumbuhannya. Penelitian daya hambat ekstrak serbuk kayu siwak (Salvadora persica) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans yang patogen terhadap mulut, dapat menunjukkan kemampuan ekstrak serbuk kayu siwak sebagai salah satu alternatif zat antibakterial yang dapat dikembangkan sebagai komoditas oral cleaner device (alat pembersih mulut) yang higinis dan efektif dalam mencegah periodontal disease.
Penelitian terhadap Staphylococcus aureus yang merupakan patogen pada saluran pernapasan, kulit dan luka dapat pula menunjukkan bahwa ekstrak serbuk kayu siwak bukan hanya efektif sebagai komponen antibakterial mulut, namun juga efektif sebagai antibakterial yang memiliki spektrum lebih luas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Siwak (Salvadora persica)
2.1.1. Sejarah Penggunaan Siwak

Penggunaan alat-alat kebersihan mulut telah dimulai semenjak berabad-abad lalu. Manusia terdahulu menggunakan alat-alat kebersihan yang bermacam-macam seiring dengan perkembangan sosial, teknologi dan budaya. Beraneka ragam peralatan sederhana dipergunakan untuk membersihkan mulut mereka dari sisa-sisa makanan, mulai dari tusuk gigi, batang kayu, ranting pohon, kain, bulu burung, tulang hewan hingga duri landak. Diantara peralatan tradisional yang mereka gunakan dalam membersihkan mulut dan gigi adalah kayu siwak atau chewing stick. Kayu ini walaupun tradisional, merupakan langkah pertama transisi/peralihan kepada sikat gigi modern dan merupakan alat pembersih mulut terbaik hingga saat ini. (El-Mostehy, 1998).
Miswak (Chewing Stick) telah digunakan oleh orang Babilonia semenjak 7000 tahun yang lalu, yang mana kemudian digunakan pula di zaman kerajaan Yunani dan Romawi, oleh orang-orang Yahudi, Mesir dan masyarakat kerajaan Islam. Siwak memiliki nama-nama lain di setiap komunitas, seperti misalnya di Timur Tengah disebut dengan miswak, siwak atau arak, di Tanzania disebut miswak, dan di Pakistan dan India disebut dengan datan atau miswak. Penggunaan chewing stick (kayu kunyah) berasal dari tanaman yang berbeda-beda pada setiap negeri. Di Timur Tengah, sumber utama yang sering digunakan adalah pohon Arak (Salvadora persica), di Afrika Barat yang digunakan adalah pohon limun (Citrus aurantifolia) dan pohon jeruk (Citrus sinesis). Akar tanaman Senna (Cassiva vinea) digunakan oleh orang Amerika berkulit hitam, Laburnum Afrika (Cassia sieberianba) digunakan di Sierre Leone serta Neem (Azadirachta indica) digunakan secara meluas di benua India. (Almas, 2003).
Meskipun siwak sebelumnya telah digunakan dalam berbagai macam kultur dan budaya di seluruh dunia, namun pengaruh penyebaran agama Islam dan penerapannya untuk membersihkan gigi yang paling berpengaruh. Istilah siwak sendiri pada kenyatannya telah umum dipakai selama masa kenabian Nabi Muhammad yang memulai misinya sekitar 543 M. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda bahwa siwak adalah penerapan terhadap pembersihan gigi dan dicintai Allah. Beliau menambahkan, “Bila kamu membersihkan mulutmu berarti kamu menghormati Allah, dan saya diperintahkan Allah untuk bersiwak karena Allah telah mewahyukan kepada saya.” Kepercayaan Nabi memandang kesehatan mulut yang baik amatlah besar, sehingga beliau senantiasa menganjurkan pada salah seorang isterinya untuk selalu menyiapkan siwak untuknya hingga akhir hayatnya. (Khoory, 1989)
Siwak terus digunakan hampir di seluruh bagian Timur Tengah, Pakistan, Nepal, India, Afrika dan Malaysia, khususnya di daerah pedalaman. Sebagian besar mereka menggunakannya karena faktor religi, budaya dan sosial. Ummat Islam di Timur Tengah dan sekitarnya menggunakan siwak minimal 5 kali sehari disamping juga mereka menggunakan sikat gigi biasa. Erwin-Lewis menyatakan bahwa pengguna siwak memiliki relatifitas yang rendah dijangkiti kerusakan dan penyakit gigi meskipun mereka mengkonsumsi bahan makanan yang kaya akan karbohidrat. (Khoory, 1989)

2.1.2 Klasifikasi Tanaman Siwak (Salvadora persica)


Klasifikasi tanaman Salvadora persica menurut Tjitrosoepomo (1998) adalah sebagai berikut :
Divisio : Embryophyta
Sub Divisio : Spermatophyta
Class : Dicotyledons
Sub Class : Eudicotiledons
Ordo : Brassicales
Family : Salvadoraceae
Genus : Salvadora
Spesies : Salvadora persica

Gambar 2.1. Pohon Salvadora persica


2.1.3 Morfologi dan Habitat Tanaman Siwak (Salvadora persica)
Siwak atau Miswak, merupakan bagian dari batang, akar atau ranting tumbuhan Salvadora persica yang kebanyakan tumbuh di daerah Timur Tengah, Asia dan Afrika. Siwak berbentuk batang yang diambil dari akar dan ranting tanaman arak (Salvadora persica) yang berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm. Pohon arak adalah pohon yang kecil seperti belukar dengan batang yang bercabang-cabang, berdiameter lebih dari 1 kaki sebagaimana pada gambar 2.1. Jika kulitnya dikelupas berwarna agak keputihan dan memiliki banyak juntaian serat. Akarnya berwarna cokelat dan bagian dalamnya berwarna putih. Aromanya seperti seledri dan rasanya agak pedas. (Al-Khateeb, 1991).
Siwak berfungsi mengikis dan membersihkan bagian dalam mulut. Kata siwak sendiri berasal dari bahasa arab ‘yudlik’ yang artinya adalah memijat (massage). Siwak lebih dari sekedar sikat gigi biasa, karena selain memiliki serat batang yang elastis dan tidak merusak gigi walaupun di bawah tekanan yang keras, siwak juga memiliki kandungan alami antimikrobial dan antidecay system. Batang siwak yang berdiameter kecil, memiliki kemampuan fleksibilitas yang tinggi untuk menekuk ke daerah mulut secara tepat dan dapat mengikis plak pada gigi. Bentuk batang siwak dapat dilihat pada gambar 2.2. Siwak juga aman dan sehat bagi perkembangan gusi. (El-Mostehy et al., 1991).
Gambar 2.2. Sebatang kayu siwak
2.1.4. Kandungan Kimia Batang Kayu Siwak
Al-Lafi dan Ababneh (1995) melakukan penelitian terhadap kayu siwak dan melaporkan bahwa siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri, mengikis plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, meliputi :
- Antibacterial Acids, seperti astringents, abrasive dan detergent yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi, menghentikan pendarahan pada gusi. Penggunaan kayu siwak yang segar pertama kali, akan terasa agak pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard yang merupakan substansi antibacterial acid tersebut.
- Kandungan kimiawi seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluorida, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimetilamin, Salvadorin, Tannin dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.
- Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, yang dapat menyegarkan mulut dan menghilangkan bau tidak sedap.
- Enzim yang mencegah pembentukan plak yang merupakan penyebab radang gusi dan penyebab utama tanggalnya gigi secara prematur.
- Anti Decay Agent (Zat anti pembusukan) dan Antigermal System, yang bertindak seperti Penicilin menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah terjadinya proses pembusukan. Siwak juga turut merangsang produksi saliva, dimana saliva sendiri merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.
Secara Kimiawi, kulit batang kayu siwak yang kering bila diekstrak dengan alkohol 80% dan kemudian diekstrak dengan ether, lalu diteliti secara terperinci kandungannya melalui ECP (Exhaustive Procedure Chemicle), maka akan ditemukan zat-zat kimia sebagai berikut : Trimetilamin, chloride, resin, sejumlah besar fluoride dan silica, sulfur dan vitamin C (El-Mostehy et al., 1981).
Menurut laporan Lewis (1982), penelitian kimiawi terhadap tanaman ini telah dilakukan semenjak abad ke-19, dan ditemukan sejumlah besar klorida, fluor, trimetilamin dan resin. Kemudian dari hasil penelitian Farooqi dan Srivastava (1990) ditemukan silika, sulfur dan vitamin C. Kandungan kimia tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut dimana trimetilamin dan vitamin C membantu penyembuhan dan perbaikan jaringan gusi. Klorida bermanfaat untuk menghilangkan noda pada gigi, sedangkan silika dapat bereaksi sebagai penggosok. Kemudian keberadaan sulfur dikenal dengan rasa hangat dan baunya yang khas, adapun fluorida berguna bagi kesehatan gigi sebagai pencegah terjadinya karies dengan memperkuat lapisan email dan mengurangi larutnya terhadap asam yang dihasilkan oleh bakteri.
Khoory (1989) menjelaskan bahwa siwak kaya dengan fluorida dan silika, fluorida mengerahkan proses antikariogenik dengan cara sebagai berikut :
1) Perubahan hydroxypatite menjadi fluorapatite yang lebih tahan terhadap acid dissolution.
2) Bercampurnya acidogenic organisme di dalam plak gigi sehingga mengurangi pH dari plak gigi.
3) Membantu memulihkan kembali gigi yang baru rusak.
4) Membentuk efek penghambat terhadap pertumbuhan bakteri pada plak gigi.
Adapun silika berfungsi membantu membersihkan gigi karena silika bekerja sebagai bahan penggosok yang dapat menghilangkan noda. (Khoory, 1989)

2.1.5. Kandungan Antimikrobial Siwak Terhadap Periodontal Treatment


El-Mostehy dkk (1995) melaporkan bahwa tanaman siwak mengandung zat-zat antibakterial. Darout et al. (2000) Melaporkan bahwa antimikrobial dan efek pembersih pada miswak telah ditunjukkan oleh variasi kandungan kimiawi yang dapat terdeteksi pada ekstraknya. Efek ini dipercaya berhubungan dengan tingginya kandungan Sodium Klorida dan Pottasium Klorida seperti salvadourea dan salvadorine, saponin, tannin, vitamin C, silika dan resin, juga cyanogenic glycoside dan benzylsothio-cyanate. Hal ini dilaporkan bahwa komponen anionik alami terdapat pada spesies tanaman ini yang mengandung agen antimikrobial yang melawan beberapa bakteri. Nitrat (NO3-) dilaporkan mempengaruhi transportasi aktif porline pada Escherichia coli seperti juga pada aldosa dari E. coli dan Streptococcus faecalis. Nitrat juga mempengaruhi transport aktif oksidasi fosforilasi dan pengambilan oksigen oleh Pseudomonas aeruginosa dan Stapyhylococcus aureus sehingga terhambat.
Komponen anionik antibakterial lainnya terdapat pada beberapa spesies tanaman adalah sulfat (SO42-), klorida (Cl-) dan tiosianat (SCN-). Tiosianat (SCN-) bertindak sebagai substrat untuk laktoperoksidase untuk membangkitkan hipotiosianit (OSCN-) dengan keberadaan hidrogen peroksida. OSCN- telah ditunjukkan bereaksi dengan kelompok sulfahidril di dalam enzim bakteri yang berubah menjadi penyebab kematian bakteri. (Darout et al., 2000)
Menurut hasil penelitian Gazi et al. (1987) ekstrak kasar batang kayu siwak pada pasta gigi yang dijadikan cairan kumur, dikaji sifat-sifat antiplaknya dan efeknya terhadap komposisi bakteri yang menyusun plak dan menyebabkan penurunan bakteri gram negatif batang.
Almas (2002) meneliti perbandingan pengaruh antara ekstrak siwak dengan Chlorhexidine Gluconate (CHX) yang sering digunakan sebagai cairan kumur dan zat anti plak pada dentin manusia dengan SEM (Scanning Electron Microscopy). Almas melaporkan bahwa 50% ekstrak siwak dan CHX 0,2% memiliki efek yang sama pada dentin manusia, namun ekstrak siwak lebih banyak menghilangkan lapisan noda-noda (Smear layer) pada dentin.
Sebuah penelitian tentang Periodontal Treatment (Perawatan gigi secara berkala) dengan mengambil sampel terhadap 480 orang dewasa berusia 35-65 tahun di kota Makkah dan Jeddah oleh para peneliti dari King Abdul Aziz University Jeddah, menunjukkan bahwa Periodontal Treatment untuk masyarakat Makkah dan Jeddah adalah lebih rendah daripada treatment yang harus diberikan kepada masyarakat di negara lain, hal ini mengindikasikan rendahnya kebutuhan masyarakat Makkah dan Jeddah terhadap Periodontal Treatment. (Al-Khateeb, 1991).
Penelitian lain dengan menjadikan serbuk (powder) siwak sebagai bahan tambahan pada pasta gigi dibandingkan dengan penggunaan pasta gigi tanpa campuran serbuk siwak menunjukkan bahwa prosentase hasil terbaik bagi kesehatan gigi secara sempurna adalah dengan menggunakan pasta gigi dengan butiran-butiran serbuk siwak, karena butiran-butiran serbuk siwak tersebut mampu menjangkau sela-sela gigi secara sempurna dan mengeluarkan sisa-sisa makanan yang masih bersarang pada sela-sela gigi. Hal ini yang mendorong perusahaan-perusahaan pasta gigi di dunia menyertakan serbuk siwak ke dalam produk pasta gigi mereka. WHO (World Health Organization) turut menjadikan siwak sebagai salah satu komoditas kesehatan yang perlu dipelihara dan dibudidayakan. (Al-Khateeb, 1991).

2.2. Tinjauan Umum terhadap Zat Antibakterial


Pertumbuhan mikroorganisme dapat dikendalikan melalui proses fisik dan kimia. Pengendalian dapat berupa pembasmian dan penghambatan populasi mikroorganisme. Menurut Pelczar dan Chan (1998), zat antimikrobial adalah zat yang dapat mengganggu pertumbuhan dan metabolisme melalui mekanisme penghambatan pertumbuhan mikroorganisme. Zat antimikrobial terdiri dari antijamur dan antibakterial. Zat antibakterial adalah zat yang mengganggu pertumbuhan dan metabolisme melalui penghambatan pertumbuhan bakteri. (Boyd and Marr, 1980; Pelczar, 1988).
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih zat antimikrobial kimiawi adalah :
1. Jenis zat dan mikroorganisme
Zat antimikrobial yang akan digunakan harus sesuai dengan jenis mikroorganismenya karena memiliki kerentanan yang berbeda-beda.
2. Konsentrasi dan intensitas zat antimikrobial
Semakin tinggi konsentrasi zat antimikrobial yang digunakan, maka semakin tinggi pula daya kemampuannya dalam mengendalikan mikroorganisme.
3. Jumlah organisme
Semakin banyak mikroorganisme yang dihambat atau dibunuh, maka semakin lama waktu yang diperlukan untuk mengendalikannya.
4. Suhu
Suhu yang optimal dapat menaikkan efektivitas zat antimikrobial
5. Bahan organik
Bahan organik asing dapat menurunkan efektivitas zat antimikrobial dengan cara menginaktifkan bahan tersebut atau melindungi mikroorganisme. Hal tersebut karena penggabungan zat dan bahan organik asing membentuk zat antimikrobial yang berupa endapan sehingga zat antimikrobial tidak lagi mengikat mikroorganisme. Akumulasi bahan organik terjadi pada permukaan sel mikroorganisme sehingga menjadi pelindung yang mengganggu kontak antara zat antimikrobial dengan mikroorganisme. (Pelczar, 1998).
Sejak 1935, sejumlah besar agen obat kimia telah dikembangkan. Senyawa kimia tersebut pada umumnya dibuat secara sintesis di laboratorium, sedangkan yang lain dibuat dari hasil sampingan kegiatan metabolisme bakteri atau fungi. Agen obat kimia diberi nama umum Antibiotika. (Volk and Wheeler, 1993). Antibiotika adalah bahan-bahan bersumber hayati yang pada kadar rendah sudah menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Jadi, antibiotika merupakan salah satu jenis antibakterial. (Schlegel, 1994).
Kriteria agen obat kimia yang digunakan sebagai kemoterapi adalah sebagai berikut :
1. Toksisitas obat terhadap sel inang harus rendah sementara memusnahkan atau menghambat agen penyakit. Dengan kata lain, obat itu harus menunjukkan toksisitas selektif bagi agen penyakit.
2. Inang harus tidak menjadi alergi (sangat peka) terhadap obat.
3. Organisme tidak boleh dengan mudah menjadi resisten terhadap obat yang digunakan.
4. Obat itu harus mencapai tempat infeksi. (Schlegel, 1994).
2.3. Tinjauan Umum Bakteri Streptococcus mutans
Klasifikasi S. mutans menurut Bergey dalam Capuccino (1998) adalah :
Kingdom : Monera
Divisio : Firmicutes
Class : Bacilli
Order : Lactobacilalles
Family : Streptococcaceae
Genus : Streptococcus
Species : Streptococcus mutans
Streptococcus mutans adalah salah satu jenis dari bakteri yang mendapat perhatian khusus, karena kemampuannya dalam proses pembentukan plak dan karies gigi (Joklik et al., 1980; Nolte, 1982). Bakteri ini pertama kali diisolasi dari plak gigi oleh Clark pada tahun 1924 yang memiliki kecenderungan berbentuk coccus dengan formasi rantai panjang apabila ditanam pada medium yang diperkaya seperti pada Brain Heart Infusion (BHI) Broth sebagaimana pada gambar 2.3, sedangkan bila ditanam di media agar memperlihatkan rantai pendek dengan bentuk sel tidak beraturan (Michalek dan Mc Ghee, 1982).

Gambar 2.3 : Streptococcus mutans

Michalek dan Mc Ghee (1982) serta Nolte (1982) menyatakan bahwa media selektif untuk pertumbuhan Streptococcus mutans adalah agar Mitis Salivarius, yang menghambat kebanyakan bakteri mulut lainnya kecuali Streptococcus. Penghambatan pertumbuhan bakteri mulut lainnya pada agar Milis Salivarius disebabkan karena kadar biru trypan. Di samping itu, media ini juga mengandung kristal violet, telurit dan sukrosa berkadar tinggi.
Streptococcus mutans yang tumbuh pada agar Mitis Salivarius memperlihatkan bentuk koloni halus berdiameter 0,5 - 1,5 mm, cembung, berwarna biru tua dan pada pinggiran koloni kasar serta berair membentuk genangan di sekitarnya. Seperti bakteri streptococcus lainnya, bakteri ini juga bersifat gram positif, selnya berbentuk bulat atau lonjong dengan diameter 1 mm dan tersusun dalam bentuk rantai. (Michalek dan Mc Ghee, 1982).
Streptococcus mutans tumbuh dalam suasana fakultatif anaerob (Lehner, 1992; Michalek dan Mc Ghee, 1982). Menurut Nolte (1982) dalam keadaan anaerob, bakteri ini memerlukan 5% CO2 dan 95% nitrogen serta memerlukan amonia sebagai sumber nitronen agar dapat bertahan hidup dalam lapisan plak yang tebal.
Streptococcus mutans menghasilkan dua enzim, yaitu glikosiltransferase dan fruktosiltransferase. Enzim-enzim ini bersifat spesifik untuk subtsrat sukrosa yang digunakan untuk sintesa glukan dan fruktan. Pada metabolisme karbohidrat, enzim glikosiltransferase menggunakan sukrosa untuk mensintesa molekul glukosa dengan berat molekul tinggi yang terdiri dari ikatan glukosa alfa (1-6) dan alfa (1-3) (Michalek dan Mc Ghee, 1982). Ikatan glukosa alfa (1-3) bersifat sangat pekat seperti lumpur, lengket dan tidak larut dalam air. Kelarutan ikatan glukosa alfa (1-3) dalam air sangat berpengaruh terhadap pembentukan koloni Streptococcus mutans pada permukaan gigi. Ikatan glukosa alfa (1-3) berfungsi pada perlekatan dan peningkatan koloni bakteri ini dalam kaitannya dengan pembentukan plak dan terjadinya karies gigi. (Roeslan dan Melanie, 1988).

2.4. Tinjauan Umum Bakteri Staphylococcus aureus

Klasifikasi S. aureus menurut Bergey dalam Capuccino (1998) adalah :
Kingdom : Monera
Divisio : Firmicutes
Class : Bacilli
Order : Bacillales
Family : Staphylococcaceae
Genus : Staphilococcus
Species : Staphilococcus aureus
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram Positif, tidak bergerak, tidak berspora dan mampu membentuk kapsul. (Boyd, 1980), berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur (Todar, 2002) sebagaimana terlihat pada gambar 2.4. Ukuran Staphylococcus berbeda-beda tergantung pada media pertumbuhannya. Apabila ditumbuhkan pada media agar, Staphylococcus memiliki diameter 0,5-1,0 mm dengan koloni berwarna kuning. Dinding selnya mengandung asam teikoat, yaitu sekitar 40% dari berat kering dinding selnya. Asam teikoat adalah beberapa kelompok antigen dari Staphylococcus. Asam teikoat mengandung aglutinogen dan N-asetilglukosamin. (Boyd, 1980).

Gambar 2.4 Staphylococcus aureus dengan Scan Electron Microscopy

Staphylococcus aureus adalah bakteri aerob dan anaerob, fakultatif yang mampu menfermentasikan manitol dan menghasilkan enzim koagulase, hyalurodinase, fosfatase, protease dan lipase. Staphylococcus aureus mengandung lysostaphin yang dapat menyebabkan lisisnya sel darah merah. Toksin yang dibentuk oleh Staphylococcus aureus adalah haemolysin alfa, beta, gamma delta dan apsilon. Toksin lain ialah leukosidin, enterotoksin dan eksfoliatin. Enterotosin dan eksoenzim dapat menyebabkan keracunan makanan terutama yang mempengaruhi saluran pencernaan. Leukosidin menyerang leukosit sehingga daya tahan tubuh akan menurun. Eksofoliatin merupakan toksin yang menyerang kulit dengan tanda-tanda kulit terkena luka bakar. (Boyd, 1980; Schlegel, 1994).
Suhu optimum untuk pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah 35o – 37o C dengan suhu minimum 6,7o C dan suhu maksimum 45,4o C. Bakteri ini dapat tumbuh pada pH 4,0 – 9,8 dengan pH optimum 7,0 – 7,5. Pertumbuhan pada pH mendekati 9,8 hanya mungkin bila substratnya mempunyai komposisi yang baik untuk pertumbuhannya. Bakteri ini membutuhkan asam nikotinat untuk tumbuh dan akan distimulir pertumbuhannya dengan adanya thiamin. Pada keadaan anaerobik, bakteri ini juga membutuhkan urasil. Untuk pertumbuhan optimum diperlukan sebelas asam amino, yaitu valin, leusin, threonin, phenilalanin, tirosin, sistein, metionin, lisin, prolin, histidin dan arginin. Bakteri ini tidak dapat tumbuh pada media sintetik yang tidak mengandung asam amino atau protein. (Supardi dan Sukamto, 1999).
Selain memproduksi koagulase, S. aureus juga dapat memproduksi berbagai toksin, diantaranya :
1. Eksotoksin-a yang sangat beracun
2. Eksotoksin-b yang terdiri dari hemosilin, yaitu suatu komponen yang dapat menyebabkan lisis pada sel darah merah.
3. Toksin F dan S, yang merupakan protein eksoseluler dan bersifat leukistik.
4. Hialuronidase, yaitu suatu enzim yang dapat memecah asam hyaluronat di dalam tenunan sehingga mempermudah penyebaran bakteri ke seluruh tubuh.
5. Grup enterotoksin yang terdiri dari protein sederhana. (Supardi dan Sukamto, 1999).
Staphylococcus aureus hidup sebagai saprofit di dalam saluran-saluran pengeluaran lendir dari tubuh manusia dan hewan-hewan seperti hidung, mulut dan tenggorokan dan dapat dikeluarkan pada waktu batuk atau bersin. Bakteri ini juga sering terdapat pada pori-pori dan permukaan kulit, kelenjar keringat dan saluran usus. Selain dapat menyebabkan intoksikasi, S. aureus juga dapat menyebabkan bermacam-macam infeksi seperti jerawat, bisul, meningitis, osteomielitis, pneumonia dan mastitis pada manusia dan hewan. (Supardi dan Sukamto, 1999).

2.5. Metode Uji Antibakteria


Konsentrasi minimun penghambatan atau lebih dikenal dengan MIC (Minimum Inhibitory Concentration) adalah konsentrasi terendah dari antibiotika atau antimikrobial yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba tertentu. Nilai MIC adalah spesifik untuk tiap-tiap kombinasi dari antibiotika dan mikroba. (Greenwood, 1995)
MIC dari sebuah antibiotika terhadap mikroba digunakan untuk mengetahui sensitivitas dari mikroba terhadap antibiotika. Nilai MIC berlawanan dengan sensitivitas mikroba yang diuji. Semakin rendah nilai MIC dari sebuah antibiotika, sensitivitas dari bakteri akan semakin besar. MIC dari sebuah antibiotika terhadap spesies mikroba adalah rata-rata MIC terhadap seluruh strain dari spesies tersebut. Strain dari beberapa spesies mikroba adalah sangat berbeda dalam hal sensitivitasnya. (Greenwood, 1995).
Metode uji antimikrobial yang sering digunakan adalah metode Difusi Lempeng Agar. Uji ini dilakukan pada permukaan medium padat. Mikroba ditumbuhkan pada permukaan medium dan kertas saring yang berbentuk cakram yang telah mengandung mikroba. Setelah inkubasi diameter zona penghambatan diukur. Diameter zona pengambatan merupakan pengukuran MIC secara tidak langsung dari antibiotika terhadap mikroba. Sensitivitas klinik dari mikroba kemudian ditentukan dari tabel klasifikasi menurut Ahn dkk . (Greenwood, 1995)
Tabel 2.1. Klasifikasi respon hambatan pertumbuhan bakteri (Ahn dkk, 1994 dalam Greenwood, 1995)
Diameter Zona terang Respon hambatan pertumbuhan
…> 20 mm kuat
16-20 mm sedang
10-15 mm lemah
…<> tidak ada
Metode uji antibakterial dan antimikrobial yang lain adalah dengan teknik Tube Dillution Test. Fungsinya untuk mengetahui hasil MIC secara langsung. Metode yang lain adalah metode E-test, yang merupakan metode uji difusi agar yang dengan mudah dan cepat memperoleh hasil MIC. (Greenwood, 1995).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ukuran zona penghambatan dan harus dikontrol adalah :
a. Konsentrasi mikroba pada permukaan medium. Semakin tinggi konsentrasi mikroba maka zona penghambatan akan semakin kecil.
b. Kedalaman medium pada cawan petri. Semakin tebal medium pada cawan petri maka zona penghambatan akan semakin kecil.
c. Nilai pH dari medium. Beberapa antibiotika bekerja dengan baik pada kondisi asam dan beberapa basa kondisi alkali/basa.
d. Kondisi aerob/anaerob. Beberapa antibakterial kerja terbaiknya pada kondisi aerob dan yang lainnya pada kondisi aerob (Greenwood, 1995)
BAB III
METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat


Penelitian Tugas Akhir ini dilaksanakan pada bulan Mei 2005 sampai bulan Juni 2005 di Laboratorium Biologi, Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan proses ekstraksi kayu siwak dilaksanakan di Laboratorium Mixing, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri dan Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

3.2 Cara Kerja

3.2.1. Tahap Persiapan
3.2.1.1 Ekstraksi kayu siwak
Serbuk siwak dari PT MISWAK diekstrak dengan menggunakan peralatan ekstrak superkritis (Supercritical Fluid Extraction Unit) buatan Thermo Separation Model X-10 yang terdapat di Laboratorium Mixing Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Industri ITS (Gambar 3.1) dan dengan sucklet (co-solvent extraction) di Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pentahuan Alam ITS Surabaya.

Gambar 3.1 : Supercritical Fluid Extraction Unit di Laboratorium Mixing, Jurusan Teknik Kimia, ITS.


3.2.1.2. Sterilisasi alat dan Bahan
Cawan Petri, Tabung Reaksi, erlenmeyer, Penjepit, Spatula, Media Agar Na, Media Nutrien Broth, dan seluruh alat dan bahan (kecuali ekstrak serbuk kayu siwak) yang akan digunakan disterilisasi di dalam autoclave selama 30 menit dengan mengatur tekanan sebesar 15 dyne/cm3 (1 atm) dan suhu sebesar 121o C setelah sebelumnya dicuci bersih, dikeringkan dan dibungkus dengan kertas. (Capuccino dan Sherman, 2001, Pelszar, 1986)

3.2.1.3 Pembuatan stok suspensi bakteri


Pembuatan suspensi bakteri dilakukan untuk perbanyakan stok, dengan cara menginokulasikan 1 ose biakan murni ke dalam 5 ml Nutrient Broth (NB), kemudian diinkubasi pada suhu 37o C selama 24 jam di dalam inkubator.

3.2.1.3 Pembuatan stok variabel konsentrasi


Stok konsentrasi yang akan divariasikan adalah mulai dari 0% (kontrol), 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, 100% (kontrol) yang kesemuanya berjumlah 11 variabel.

3.2.2 Tahap Pengujian

3.2.2.1 Uji penghambatan pertumbuhan bakteri
Cawan petri yang berisi media NA sebanyak kurang lebih 10 ml diberi suspensi bakteri sebanyak kurang lebih 2 ml dan diratakan ke dalam cawan Petri dengan metode pour plate dan dishaking dengan vortex. Media didinginkan hingga memadat.
Setiap bakteri yang diujikan untuk setiap jenis konsentrasi Salvadora persica memerlukan 4 cawan petri, dimana dalam satu cawan petri diujikan dengan 3 kertas cakram, kecuali 1 cawan yang berisi 2 cakram. Kertas cakram yang telah dicelup ke dalam stok konsentrasi ekstrak serbuk kayu siwak tadi diletakkan di atas permukaan agar secara higinis di dalam Laminar Air Flow.
Lalu media diinkubasi ke dalam inkubator. Inkubasi dilakukan pada suhu 37o C selama 24 jam, kemudian diukur diameter zona terang (clear zone) dengan menggunakan penggaris (milimeter). Tabel 3.1 menunjukkan respon hambatan pertumbuhan bakteri diklasifikasikan menurut Ahn, dkk. (1994). Perlakuan dilakukan dengan repetisi sebanyak 3 kali.

3.2.2.2 Analisis Data


Untuk menganalisis data hasil penelitian, dipergunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang dianalisa dengan Analisis Varian (Anava) satu arah untuk mengetahui apakah ada perbedaan atau pengaruh pada tiap perlakuan dan dilanjutkan dengan Uji Duncan dengan taraf kepercayaan 5 %. Uji Duncan ini dilakukan untuk membandingkan hasil yang diperoleh dari tiap-tiap perlakuan
DAFTAR PUSTAKA

Al-Khateeb T.L., D.M. O’Mullane, H. Whelton, M.I. Sulaiman, 1991, Periodontal treatment needs among Saudi Arabian adults and their relationship to the use of the Miswak, Research Journal, King Abdulaziz University, Jeddah, Saudi Arabia.

Al-Lafi T. and Ababneh H., 1995, The effect of the extract of the miswak (chewing sticks) used in Jordan and the Middle East on oral bacteria, Research Journal, University of Wales College of Medicine, Dental School, Periodontology Department, Cardiff, UK.

Almas, K., 2003, The effect of Salvadora persica extract (miswak) and chlorhexidine gluconate on human dentin: a SEM study, The Journal of the Contemporary Dental Practise, Vol. 3, no. 3, August 15, 2002.

Almas, K., 1993, Miswak and its Role in Oral Health, Research Journal, Postgraduate Dentist Middle East.

Almas, K., 1999, Miswak : A Cultural and Scientific Heritage, Saudi Dental Journal 1999 May-August.

Benson, H.J., 1998, Microbiological Application : Laboratory Manual in General Microbiology, McGraw-Hill Book Co., New York, USA.

Capuccino, James G., Natalie Sherman, 2001, Microbiology : A Laboratory Manual, Soxth Edition, Benjamin Cummings, San Fransisico.

Cason, James and Henry Rapoport, 1992, Laboratory Text in Organic Chemistry, Second Edition, Prentice Hall Inc., New Jersey

Chan, E.C.S., W. Al-Joburi, S.L. Cheng, F. Delorme, 1989, In Vitro Susceptibilties of Oral Bacterial Isolates to Spiramycin : Antimicrobial Agents and Chemotherapy, Journal of Pharmacology, American Society for Microbiology

Chen, Casey, 2001, Periodontitis as a Biofilm Infection, Journal of The California Fental Association.

Darout, Ismail A., 2000, Antimicrobial Anionic Components In Miswak Extract, Journal Pharmacology, Department of Odontology, Faculty of Dentistry, University of Bergen, Bergen, Norway

El-Mostehy, DR. M. Ragaii, A.A. Al-Jassem, I.A. Al-Yassin, A.R. El-Gindy, E. Shoukry, 1998, Siwak-As An Oral Health Device (Preliminary Chemical And Clinical Evaluation), Journal Pharmacology, Department of Odontology, Faculty of Dentistry, University of Kuwait, Kuwait.

Gazi, M., T.Saini, N.Ashri, A. Lambourne, 1990, Meswak Chewing Stick versus Conventional Toothbrush as an Oral Hygiene Aid, Medline Journal.

Gazi, M.I., A.Lambourne, A.H. Chagla, 1987, The Antiplaque effect of Toothpaste containing Salvadora persica compared Chlorhexidine Gluconate: A Pilot Study, Medline Journal, Clinical Prentive Dentsitry, Lippincott co., Philadelphia.

Gerrit Bos, 1993, The Miswak, an Aspect of Dental Care in Islam, Medical History, vol. 37

Greenwood, 1995, Antibiotics Susceptibility (Sensitivity) Test, Antimicrobial and Chemoterapy.

Hardie J. and Ahmed K., 1995, The Miswak as an aid in oral hygiene, Dental Journal, J Philipp Dental Assocation

Michalek, S.M., J.R. Mc Ghee, 1982, Dental Microbiology, Fourth Edition, Harper & Raw Publisher, Philadelphia.

Nurfalah, Laela, 1996, Uji Daya Antibakterial Pasta Gigi yang Mengandung Siwak dengan Pasta Gigi yang Tidak Mengandung Siwak terhadap Sterptococcus mutans, Skripsi, Fakultas Kedoketran Gigi Universitas Padjajaran, Bandung

Pelczar, M.J., S. Chan, 1986, Dasar-dasar Mikrobiologi 1, UI-Press, Jakarta.

Pelczar, M.J., S. Chan, 1988, Dasar-dasar Mikrobiologi 2, UI-Press, Jakarta.

Roeslan, B., Melanie Errawan, 1988, Sintesis Glukan oleh GT-ase Streptococcus mutans : mekanisme pembentukan plak gigi, Majalah Ilmiah FKG Usakti, Th. III, No. 9, Universitas Trisakti, Jakarta.

Schlegel, H.G., 1994, Mikrobiologi Umum, edisi keenam, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, G., 1996, Taksonomi Tumbuhan I, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tjitrosoepomo, G, 1998, Taksonomi Tumbuhan 2, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tortora, G.J.,et al., 2001, Microbiology an Introduction, Addison Wesley Longman Inc., San Fransisco, USA.

Todar, K., 2002, Staphylococcus, University of Wisconsin-Madison Department of Bacteriology, http://www.bact.wisc.edu/.

Vardit Rispler-Chaim, 1992, The Siwak: A Medieval Islamic Contribution to Dental Care, Journal of the Royal Asiatic Society, ser. 3, vol. 2

Volk, W.A., 1993, Mikrobiologi Dasar, Edisi kelima, Jilid I, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Zamroni, Ahmad, 2003, Pengaruh Variasi Konsentrasi Gula pada Minuman Terh Terfermentasi (Kombucha) terhadap Aktivitas Antibakterial, Skripsi, Program Studi Biologi, FMIPA, ITS, Surabaya.


Blog EntryDec 3, '07 6:55 PM
for everyone

Sekedar informasi bagi yang mempunyai anak balita yang sulit disuruh menggosok gigi menjelang tidur, apalagi kalo sebelum tidur dia biasa minum susu, dan setelahnya tidak berkumur-kumur dengan air, maka bisa dipastikan umur 3 tahun pun giginya udah banyak yang “gigis” atau mungkin sudah keropos sana-sini.
Saat ini ada alternatif pembersih gigi, yaitu SIWAK, batang kayu kecil yang berupa serabut yang dapat dijadikan alternatif untuk membersihkan gigi.
Siwak ini sudah umum dipakai masyarakat Arab, bahkan sampai-sampai bagi kalangan muslim sangat ditekankannya memakai siwak dengan sabda Rasulullah: “Seandainya tidak memberatkan ummatku, maka aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudhu” (Muttafaq ‘alaihi)
Siwak berbentuk batang, diambil dari akar dan ranting segar tanaman arak (Salvadora persica) yang berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm. Pohon Arak adalah pohon yang kecil, seperti belukar dengan batang yang bercabang-cabang, diameternya lebih dari 1 kaki, jika kulitnya dikelupas warnanya agak keputihan dan memiliki banyak juntaian serat. Akarnya berwarna coklat dan bagian dalamnya berwarna putih, aromanya seperti seledri dan rasanya agak sedikit pedas.

Siwak berfungsi mengikis dan membersihkan bagian dalam mulut. Kata siwak diambil dari kata arab “yudlik” yang artinya adalah “memijat” (yakni memijat bagian dalam mulut). Jadi siwak lebih dari hanya sekedar sikat gigi biasa. Selain itu, batang siwak memiliki serat batang yang elastis dan tidak merusak gigi walau dibawah tekanan yang keras, bahkan batang siwak yang berdiameter kecil, memiliki kemampuan fleksibilitas yang tinggi untuk menekuk ke daerah mulut secara pas untuk mengeluarkan sisa-sisa makanan dari sela-sela gigi dan menghilangkan plaque. Siwak juga aman dan sehat bagi perkembangan gusi.

Perlu diketahui, bahwa sisa-sisa makanan yang ada pada sela-sela gigi, menjadikan lingkungan mulut sangat baik untuk aktivitas pembusukan yang dilakukan oleh berjuta-juta bakteri yang dapat menyebabkan gigi berlubang, gusi berdarah dan munculnya kista. Selain itu, bakteri juga menghasilkan enzim perusak yang “memakan” kalsium gigi sehingga menyebabkan gigi menjadi keropos dan berlubang. Bahkan, pada beberapa keadaan bakteri juga menghasilkan gas sisa aktivitas pembusukan yang menyebabkan bau mulut menjadi tak sedap.

Penelitian terbaru terhadap kayu siwak menunjukkan bahwa siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh bakteri, menghilangkan plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, seperti :
- Antibacterial acids, seperti astringents, abrasive dan detergents yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi dan menghentikan pendarahan pada gusi. Pada penggunaan siwak pertama kali, mungkin terasa pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard di dalamnya yang merupakan substansi antibacterial acids tersebut.
- Kandungan kimia seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluoride, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimethyl amine, Salvadorine, Tannins dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.
- Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, menjadikan mulut menjadi harum dan menghilangkan bau tak sedap.
- Enzim yang mencegah pembentukan plaque yang menyebabkan radang gusi. Plaque juga merupakan penyebab utama tanggalnya gigi secara premature.
- Anti decay agent (Zat anti pembusukan), yang menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah proses pembusukan. Selain itu siwak juga turut merangsang produksi saliva (air liur) lebih, dimana saliva merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.

Sebuah penelitian terbaru tentang “Periodontal Treatment” (Perawatan gigi secara periodik/berkala) dengan mengambil sample terhadap 480 orang dewasa berusia 35-65 tahun di kota Makkah dan Jeddah oleh para ilmuwan dari King Abdul Aziz University, Jeddah, menunjukkan bahwa Periodontal treatement untuk masyarakat Makkah dan Jeddah adalah lebih rendah daripada studi yang dilakukan terhadap negara-negara lain, hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan siwak berhubungan sangat erat terhadap rendahnya kebutuhan masyarakat Makkah dan Jeddah terhadap “Periodontal Treatment”.

Penelitian lain dengan menjadikan bubuk siwak sebagai bahan tambahan pada pasta gigi dibandingkan dengan penggunaan pasta gigi tanpa campuran bubuk siwak menunjukkan bahwa prosentase hasil terbaik bagi kebersihan gigi secara sempurna adalah pasta gigi dengan butiran-butiran bubuk siwak, karena butiran-butioran tersebut mampu menjangkau sela-sela gigi secara sempurna dan mengeluarkan sisa-sisa makanan yang masih bersarang pada sela-sela gigi. Sehingga banyak perusahaan-perusahaan di dunia menyertakan bubuk siwak ke dalam produk pasta gigi mereka. WHO pun turut menjadikan siwak termasuk komoditas kesehatan yang perlu dipelihara dan dibudidayakan.

Dan saat ini, setelah diimport di Indonesia, sebatang siwak pun masih tergolong murah harganya.
Untuk Siwak Basah (Jenis Siwak yang kualitas bagus dan lembut) yang disegel dalam kemasan kedap, sehingga tetap bagus kualitasnya sejak pengiriman dari Saudi, sepanjang 15 cm (Sepanjang ini gak akan habis dipakai selama 1 bulan utk pemakaian rutin :) ) harganyapun tidak mencapai puluhan ribu.
Di pasaran siwak basah biasanya dijual sekitar 10 ribu sampai 12 ribu.
harga ini pun masih bisa kurang jika kita beli ke agen…
Apalagi kalo menggunakan siwak kering, harganya paling cuma 3 ribu, tapi mungkin kelemahannya adalah agak keras, sehingga kurang begitu nyaman di mulut.
Subhanallah, Allah menciptakan ekosistem sedemikian seimbangnya.
Masing2 bagian dapat bermanfaat bagi bagian yang lain.
Dan manfaat dari alam ternyata jika kita perhatikan tidak terlalu menguras kantong kita
Tak seperlunya kita mengabaikan alam, dan sangat “fanatik” dengan pengobatan modern.


Blog EntryDec 3, '07 6:53 PM
for everyone
Para pakar kesehatan menyatakan bahwa udara sepertiga malam terakhir sangat kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat-zat lain, sehingga sangat bermanfaat untuk optimalisasi metabolisme tubuh. Hal ini jelas sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas seseorang dalam aktivitasnya selama seharian penuh.

Contohlah Rasulullah, yang setiap subuh selalu mendapat asupan udara segar. Beliau bangun sebelum subuh dan melaksanakan qiyamul lail. Biasanya orang yang memulai kehidupan di pagi hari dengan bangun subuh, akan menjalani hari dengan penuh semangat dan optimisme. Berbeda dengan orang yang tidak bangun di subuh hari, biasanya lebih mudah terserang rasa malas untuk beraktivitas.

Untuk menjaga kesehatan mulut dan giginya pada pagi hari, Rasulullah SAW
biasa memakai siwak. Siwak mengandung flour yang sangat bermanfaat dalam menjaga kesehatan gigi dan gusi. Mulut dan gigi merupakan organ tubuh yang sangat berperan dalam konsumsi makanan. Apabila mulut dan gigi sakit, maka biasanya proses konsumsi makanan menjadi terganggu.

Rasulullah saw membuka menu sarapannya dengan air dingin yang dicampur dengan madu. Dalam Al Qur'an, madu merupakan syifaa (obat) yang diungkapkan dengan isim nakiroh, menunjukkan arti umum dan menyeluruh. Pada dasarnya madu bisa menjadi obat atas berbagai penyakit. Madu berfungsi untuk membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usus, dan menyembuhkan sembelit, wasir, luka bakar, dan peradangan.

Tujuh butir kurma ajwa (matang) menjadi kebiasaan Rasulullah saw menjelang siang. Beliau pernah bersabda, "Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindungi dari racun." Hal ini terbukti ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di perang Khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa dinetralisir oleh zat-zat yang terkandung dalam kurma. Sementara itu Bisyir ibu al Barra', salah seorang sahabat yang ikut makan racun tersebut akhirnya meninggal, tetapi Rasulullah saw selamat dari racun tersebut. Rahasianya adalah tujuh butir kurma yang biasa dikonsumsi Rasulullah saw.

Menjelang sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah cuka dan minyak zaitun. Tentu saja tidak hanya cuka dan minyak zaitun, tetapi dikonsumsi dengan makanan pokok seperti roti. Manfaatnya banyak sekali, diantara mencegah lemah tulang, kepikunan, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol, dan melancarkan pencernaan.

Di malam hari, menu utama makan malam Rasulullah adalah sayur- sayuran. Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit.

Setelah makan malam Rasulullah tidak langsung tidur. Beliau beraktivitas terlebih dahulu supaya makanan yang dikonsumsi masuk lambung dengan cepat dan mudah dicerna. Caranya bisa juga dengan shalat. Rasulullah saw bersabda: "Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah dan shalat, serta janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras."

Artikel diatas diambil dari buku Panduan Diet Ala Rasulullah yang ditulis oleh Indra Kusumah SKL, S.Psi. Buku ini mengulas tentang pola makan Rasulullah saw sehari-hari, adab makan Rasulullah, makanan kesukaan Rasulullah serta khasiatnya, makanan dan minuman yang kurang disukai Rasulullah saw, makanan dan minuman yang dilarang Rasulullah, dan lain sebagainya.

Panduan Diet Ala Rasulullah mencoba menggabungkan unsur keteladanan diet ala Rasulullah dengan pengetahuan ilmiah. Buku ini diterbitkan oleh QultumMedia.

www.qultummedia.com
__________________
QS. 5:116
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku, dua orang tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib."

Blog EntryDec 3, '07 6:50 PM
for everyone
Dari penelitian menunjukkan bahwa kayu siwak (Salvadora persica) mengandung bahan-bahan kimiawi yang bermanfaat untuk menekan aktivitas mikrobial dan menghambat pertumbuhannya. Penelitian daya hambat kayu siwak (Salvadora  persica) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans yang patogen terhadap mulut, dapat menunjukkan kemampuan kayu siwak sebagai salah satu alternatif zat antibakterial yang memang seharusnya dikembangkan sebagai komoditas oral cleaner device (alat pembersih mulut) yang higinis dan efektif dalam mencegah periodontal disease. Penelitian terhadap Staphylococcus aureus yang merupakan patogen pada saluran pernapasan, kulit dan luka dapat pula menunjukkan bahwa kayu siwak bukan hanya efektif sebagai komponen antibakterial mulut, namun juga efektif sebagai antibakterial yang memiliki spektrum lebih luas. (penelitian ini dikembangkan oleh Mahasiswa Biologi FMIPA ITS)


Blog EntryDec 3, '07 6:46 PM
for everyone

23 May 2007

SIWAK

Bagi seorang muslim dianjurkan untuk bersiwak di berbagai waktu dalam kesehariannya.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Kalau tidaklah memberatkan atas ummatku, sungguh aku akan menyuruh mereka bersiwak setiap kali berwudhu !”. [Hadits Riwayat Bukhari no. 887, Muslim no.252 ini adalah lafadz Muslim, Pent.]


Apabila dihitung dalam kesehariannya maka seorang muslim telah melakukan tidak kurang dari 20 kali bersiwak. Rinciannya yaitu, setiap sholat lima waktu, shalat sunnah rawatib (dua belas kali), shalat dhuha, shalat witir, ketika akan masuk rumah. Bersiwak adalah hal yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika akan masuk rumah seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu’anha dalam shahih muslim.

Oleh karena itu setiap Anda memasuki rumah maka mulailah dengan bersiwak, karena hal itu termasuk mengikuti sunnah, begitu juga ketika akan membaca al Qur’an, ketika bau mulut mukai berubah, bangun dari tidur, berwudhu’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda .

"Artinya : Siwak itu membersihkan mulut dan diridhai Allah”. [Hadits Riwayat Bukhary, 4: 137 secara mu’allaq , Ahmad juz VI, hal. 47, 62, 124 dan 238]

Faedah bersiwak.

[1] Bagi hamba-hambaNya yang mulutnya bersih akan mendapatkan ridho dari Allah.

[2] Siwak dapat membersihkan mulut

Berdasarkan penelitian kesehatan modern tentang siwak didapatkan bahwa sesungguhnya siwak meliputi banyak sekali materi yang bermanfaat bagi gigi dan gusi, antara lain :

[a]. Mengandung materi-materi yang dapat mengenyahkan kuman-kuman
[b]. Mengandung materi-materi yang dapat membersihkan gigi dan gusi
[c]. Mengandung materi-materi yang dapat menjaga kebersihan gigi
[d]. Mengandung materi-materi yang wangi dan dapat merubah bau mulut yang busuk.

Oleh
Syaikh Khalid al Husainan [almanhaj.or.id]


Blog EntryDec 3, '07 6:38 PM
for everyone
Dalam kitab Ath-Thubbun Nabawi (Medis Nabawi) yang disusun oleh Ibnul Qoyyim dijelaskan manfaat siwak antara lain :
1.- membersihkan mulut,
2.- membersihkan gusi,
3.- mencegah pendarahan
4.- menguatkan penglihatan
5.- mencegah  gigi  berlubang
6.- menyehatkan pencernaan
7.- menjernihkan suara
8.- membantu pencernaan makanan
9.- memperlancar saluran nafas (bicara)
10.- menggiatkan bacaan
11.- menahan tidur
12.- meridhokan Allah Ta’ala
13.- dikagumi malaikat
14.- etc.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersiwak dalam waktu puasa dan tidak, pada waktu wudhu, ketika akan sholat atau memasuki rumah. Beliau bersiwak dengan kayu(dahan ) Araak. Bila tidur,  siwak itu diletakkan di dekat kepalanya, dan jika bangun tidur beliau mulai bersiwak.


Blog EntryDec 3, '07 6:34 PM
for everyone

Bersiwak Efektif Hilangkan Plak Gigi

PADA bulan puasa ini, kebersihan mulut perlu dijaga. Selain mencegah penyakit, mengurangi bau tak sedap. Apalagi kalau pekerjaan membersihkan gigi dan mulut itu diniatkan untuk ibadah. Selain memperoleh sehat dan bersih, mendapat pahala.
SIWAK adalah sejenis 
kayu berasal dari Ta
nah Arab, yang sering disebut kayu Irak. Menurut KH Irsyad dari Pesantren As Syafiiyah, kebiasaan bersiwak pada umat Islam sebenarnya berawal dari keteladanan Nabi Muhammad. Rasulullah SAW sellau menggunakan siwak, terutama ketika hendak shalat, khotbah, dan sesudah makan. Oleh karena itu, menarik untuk dikaji dan dipelajari, manfaat anjuran Rasulullah tersebut.
Begitu pentingnya memelihara kebersihan gigi, Rasulullah ketika sakit pun tetap membersihkan gigi dengan siwak. Bahkan ketika Beliau sudah tidak mampu untuk melakukannya sendiri --saat menjelang berpulang ke Rahmatullah-- Rasulullah meminta tolong pada Siti Aisyah untuk membersihkan giginya dengan siwak. Nabi pernah pula bersabda yang berbunyi, “Seandainya tidak khawatir akan memberatkan umat, niscaya saya wajibkan mereka untuk bersiwak.”
Kiai Irsyad mengatakan, “Begitu penting memelihara kesehatan gigi, bersiwak hukumnya sunnah yang diutamakan. Kalau demikian, tentu ada rahasia di balik itu,” ujar pria yang sudah puluhan tahun memakai siwak ini, tetapi belum mengetahui manfaatnya secara medis.
Benarkah siwak yang terbuat dari kayu asin dan berserabut itu bisa mencegah plak gigi? Irsyad selain bersiwak menggosok gigi dengan sikat plus pasta gigi. Siwak ia pakai ketika akan shalat atau ibadah lainnya. “Bagi saya, alasan utama memakai karena melihat keutamaan sunnah saja. Mengenai manfaatnya bagi kesehatan, saya belum punya informasi,” akunya. 
“Yang saya tahu dalam ajaran Nabi, orang yang selalu bersiwak maka rohnua mudah keluar ketika meninggal. Orang itu tidak akan kesakitan saat sakaratul maut,” kata ahli fikih tersebut.
Bagaimana penggunaan sikat dan pasta gigi? “Tidak masalah. Insya Allah sama-sama mendapat pahala, karena itupun merupakan upaya menjaga kesehatan dan kebersihan gigi, meski tidak menggunakan siwak. Apalagi kalau pekerjaan itu dilakukan dengan niat untuk ibadah. Selain memperoleh sehat dan bersih, mendapat pahala,” tandas Irsyad.
Dalam menggunakan siwak, katanya, hendaknya tidak sekadar bersiwak. Perhatikan kebersihannya. Kayu siwak harus sering dicuci, dikupas dan diraut agar kebersihannya senantiasa terjaga. Kalau kayu siwak itu tidak dibersihkan, maka kayu yang diduga punya manfaat sebagai antiseptik itu bisa jutru menjadi sarang kuman.
Drg BM Bachtiar dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia mengatakan, berdasarkan fungsi mekanisnya, siwak sama dengan sikat gigi. Siwak dapat berfungsi sebagai alat membersihkan gigi dari kotoran atau plak. 
“Mengapa siwak bermanfaat menghilangkan plak? Plak merupakan kumpulan sisa makanan yang telah membusuk dan menempel pada gigi. Jika diteliti lebih dalam, ternyata plak itu merupakan asrama kuman. Di sini siwak berperan membersihkan sisa makanan, sekaligus mengandung zat khusus yang rasanya asin tersebut,” paparnya. 
Kuman-kuman dari makanan menempel pada gigi, dan menumpuk sedikit demi sedikit. Berdasarkan penelitian, kuman itu akan menempel pada bagian dalam tiga-empat jam. “Dianjurkan menyikat gigi secara teratur, untuk mencegah penumpukan sisa makanan yang mengandung kuman berbagai jenis dan ribuan jumlahnya itu.”
Plak ibarat sebuah rumah produksi, yang menghasilkan beraneka produk. Di antaranya yang paling sering adalah asam. Kondisi ini berdampak buruk bagi gigi, menyebabkan gigi berlubak sekaligus merusak jaringan di sekitarnya.
Kuman-kuman paling sering dikaitkan dengan gigi berlubang, dalam artian yang sangat menyukai suasana asam adalah streptokokus. Sedangkan yang menyebabkan kerusakan jaringan antara lain aktinomises dan aktinobasilus. Kuman itu akan melakukan aksinya untuk merusak gigi setelah berada di mulut sekian jam lamanya. 
Mula-mula, demikian Bachtiar, mungkin hanya ada satu spesies, kemudian bertambah hingga ribuan. Semakin tebal plak semakin beragam kumannya, dan tingkat keasamannya juga semakin tinggi. (ros/Panasea)

Dilakukan Setiap Sebelum Shalat
DRG BM Bachtiar sangat paham mengapa bersiwak dianjurkan dilakukan setiap kali sebelum shalat. Menurutnya, pada dasarnya plak memang sulit dihindari karena proses terbentuknya begitu cepat. Karena itulah sangat tepat anjuran yang mengatakan, menyikat gigi itu harus dilakukan beberapa kali dalam sehari, untuk mencegah tertimbunnya plak pada gigi.
Jika dianalisis, lanjut Bachtiar, anjuran bersiwak pada setiap akan shalat dapat dipahami. Frekuensi yang disarankan, katakanlah pada shalat wajib, sudah tepat. Yaitu waktu Shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh. Jika dibuat rata-rata, selang waktunya untuk bersiwak sekitar 4-5 jam. Belum lagi ada shalat sunat Tahajjud, yang dilakukan pada waktu malam, atau Dhuha di pagi hari, serta anjuran bersiwak setelah makan.
Ditegaskan Bachtiar, rasa asin yang terdapat pada kayu siwak kemungkinan dapat menurunkan tingkat keasaman daerah mulut, bahkan mampu mendekati netral. “Tingkat keasaman atau pH mulut yang baik yang mendekati netral, yakni antra pH 6-7,” katanya.
Tujuan utama menyikat gigi yaitu mencegah, dan menghilangkan plak pada gigi. Sedangkan bentuk sikat gigi dan teknik pemakaiannya, terserah mana suka saja asal tidak menyebabkan persakan gusi dan gigi. Kejelekan dalam menyikat gigi juga ada. Jika tidak tepat, misalnya terlalu kencang dalam menyikatnya, dapat mengakibatkan gusi aus dan terbuka. 
Memakai bulu sikat gigi yang keras sebetulnya boleh-boleh saja, kalau dalam menyikatnya tidak terlalu keras dan cepat. Agar plak tidak cepat menumpuk dan membuat pelapukan gigi, Bachtiar menyarankan:
1. Harus rajin dan teratur menggosok gigi, apakah memakai pasta gigi atau tidak jangan dijadikan hambatan. Untuk praktisnya, paling tidak dalam sehari melakukan tiga kali gogok gigi, yaitu setelah makan malam, setwelah makan pagi dan setelah makan siang.
2. Untuk mencegah kerusakan jaringan, jangan terlalu kasar dalam menyikat gigi, dan jangan menggunakan sikat yang terlalu keras. 
3. Dari segi makanan dan kebiasaan makan, hindari makanan yang manis-manis atau asam tertinggal terlalu lama di dalam mulut. Untuk itu, segera berkumur atau menyikat gigi sehabis makan yang manis-manis. (ros/Panasea)


Blog EntryDec 3, '07 6:33 PM
for everyone
Subhanallah, Maha suci Allah… sungguh indah dan sempurna agama yang diturunkan-Nya, sungguh mulia hukum-hukum yang disyariatkan-Nya, karena tak ada satupun dari apa-apa yang diturunkan-Nya dan apa-apa yang diciptakan-Nya kecuali pasti ada manfaat dan hikmahnya. Kesempurnaan islam ini benar-benar tiada bandingannya oleh agama-agama selainnya. Diantara kesempurnaan Islam adalah syariat bagi ummatnya untuk menjaga kebersihan dan kesehatan, seperti kewajiban istinja’ setelah buang air, mandi janabat setelah junub, bahkan banyak sekali hikmah-hikmah syariat yang tersingkap dalam ajaran islam yang telah dibuktikan oleh sains modern, seperti khasiat madu, habbatus sawda’ (jinten hitam), minyak zaitun hingga ‘si kayu ajaib’ siwak yang bermanfaat bagi kesehatan gigi dan gusi. Mari kita kupas apa manfaat kayu siwak ini bagi kesehatan gigi…

Sejak zaman dahulu, manusia telah mengenal beberapa variasi teknik dalam membersihkan gigi. Mulai dari bulu ayam, duri landak, tulang hingga kayu dan ranting-ranting digunakan sebagai alat pembersih gigi. Masyarakat arab sebelum kedatangan islam, menggunakan akar dan ranting kayu dari pohon arak (Salvadora persica) yang hanya dapat tumbuh di daerah asia tengah dan afrika, yang belakangan diketahui sebagai alat pembersih gigi terbaik hingga saat ini. Setelah kedatangan islam, RasuluLlah menetapkan penggunaan siwak sebagai sunnah beliau yang sangat dianjurkan, bahkan beliau bersabda : “Seandainya tidak memberatkan ummatku, maka aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudhu” (Muttafaq ‘alaihi). Hal ini menunjukkan bahwa RasuluLlah adalah orang pertama yang mendidik manusia dalam memelihara kesehatan gigi.

Siwak berbentuk batang, diambil dari akar dan ranting segar tanaman arak (Salvadora persica) yang berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm. Pohon Arak adalah pohon yang kecil, seperti belukar dengan batang yang bercabang-cabang, diameternya lebih dari 1 kaki, jika kulitnya dikelupas warnanya agak keputihan dan memiliki banyak juntaian serat. Akarnya berwarna coklat dan bagian dalamnya berwarna putih, aromanya seperti seledri dan rasanya agak sedikit pedas.

Siwak berfungsi mengikis dan membersihkan bagian dalam mulut. Kata siwak diambil dari kata arab ‘yudlik’ yang artinya adalah ‘memijat’ (yakni memijat bagian dalam mulut). Jadi siwak lebih dari hanya sekedar sikat gigi biasa. Selain itu, batang siwak memiliki serat batang yang elastis dan tidak merusak gigi walau dibawah tekanan yang keras, bahkan batang siwak yang berdiameter kecil, memiliki kemampuan fleksibilitas yang tinggi untuk menekuk ke daerah mulut secara pas untuk mengeluarkan sisa-sisa makanan dari sela-sela gigi dan menghilangkan plaque. Siwak juga aman dan sehat bagi perkembangan gusi.

Perlu diketahui, bahwa sisa-sisa makanan yang ada pada sela-sela gigi, menjadikan lingkungan mulut sangat baik untuk aktivitas pembusukan yang dilakukan oleh berjuta-juta bakteri yang dapat menyebabkan gigi berlubang, gusi berdarah dan munculnya kista. Selain itu, bakteri juga menghasilkan enzim perusak yang ‘memakan’ kalsium gigi sehingga menyebabkan gigi menjadi keropos dan berlubang. Bahkan, pada beberapa keadaan bakteri juga menghasilkan gas sisa aktivitas pembusukan yang menyebabkan bau mulut menjadi tak sedap.

Penelitian terbaru terhadap kayu siwak menunjukkan bahwa siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh bakteri, menghilangkan plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, seperti :
- Antibacterial acids, seperti astringents, abrasive dan detergents yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi dan menghentikan pendarahan pada gusi. Pada penggunaan siwak pertama kali, mungkin terasa pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard di dalamnya yang merupakan substansi antibacterial acids tersebut.
- Kandungan kimia seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluoride, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimethyl amine, Salvadorine, Tannins dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.
- Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, menjadikan mulut menjadi harum dan menghilangkan bau tak sedap.
- Enzim yang mencegah pembentukan plaque yang menyebabkan radang gusi. Plaque juga merupakan penyebab utama tanggalnya gigi secara premature.
- Anti decay agent (Zat anti pembusukan), yang menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah proses pembusukan. Selain itu siwak juga turut merangsang produksi saliva (air liur) lebih, dimana saliva merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.

Sebuah penelitian terbaru tentang ‘Periodontal Treatment’ (Perawatan gigi secara periodik/berkala) dengan mengambil sample terhadap 480 orang dewasa berusia 35-65 tahun di kota Makkah dan Jeddah oleh para ilmuwan dari King Abdul Aziz University, Jeddah, menunjukkan bahwa Periodontal treatement untuk masyarakat Makkah dan Jeddah adalah lebih rendah daripada studi yang dilakukan terhadap negara-negara lain, hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan siwak berhubungan sangat erat terhadap rendahnya kebutuhan masyarakat Makkah dan Jeddah terhadap ‘Periodontal Treatment’.

Penelitian lain dengan menjadikan bubuk siwak sebagai bahan tambahan pada pasta gigi dibandingkan dengan penggunaan pasta gigi tanpa campuran bubuk siwak menunjukkan bahwa prosentase hasil terbaik bagi kebersihan gigi secara sempurna adalah pasta gigi dengan butiran-butiran bubuk siwak, karena butiran-butioran tersebut mampu menjangkau sela-sela gigi secara sempurna dan mengeluarkan sisa-sisa makanan yang masih bersarang pada sela-sela gigi. Sehingga banyak perusahaan-perusahaan di dunia menyertakan bubuk siwak ke dalam produk pasta gigi mereka. WHO pun turut menjadikan siwak termasuk komoditas kesehatan yang perlu dipelihara dan dibudidayakan. Mari kita budayakan hidup sehat dengan bersiwak…!!! (FORMMEN)

Blog EntryDec 3, '07 6:28 PM
for everyone

Al-Khair
Peelu Miswak
Hygienically processed vacuum packed Miswak.
To Retain Freshness- Regularly Cut used portion and discard when reduced to little finger size
The root of a tree known in Arabic  as 'Arak' (Salvadora Persica), and in Urdu as 'Peelu'.
 

A Natural Toothbrush That Provides Significant Health Benefits
Simply scrape off  bark from the tip(1/2"), then chew the tip gently until brush-like, start brushing horizontally.

Narrated Abu Huraira:
Allah's Apostle said, 'If I had not found it hard for my followers or the people, I would have ordered them to clean their teeth with Siwak for every prayer."
{Sahih Bukhari }

Approximately 20 cm (large) natural extract from the commonly known salt bush, mustard tree or the toothbrush tree in a refreshing natural  flavour. This miswak naturally contains many components such as fluoride, astringents, detergents, enamel protecting resins, which eliminate the need for any toothpaste. Simply scrape off the bark from the tip, then chew the tip gently until brush-like and the fibres become soft. Individually sesled to retain the natural freshness

Before the advent of plastic/synthetic toothbrushes Muslims  cleaned their teeth with a natural toothbrush from the 'Toothbrush Tree'. Today many people still use the Miswak as the primary preventative measure in oral hygiene. There has been a huge revival towards traditional/organic products throughout the world and this is THE alternative to the germ inhibiting toothbrushes.

Narrated 'Aisha: 
AbdurRahman bin Abi Bakr came holding a Siwak with which he was cleaning his teeth. Allah's Apostle looked at him. I requested Abdur-Rahman to give the Siwak to me and after he gave it to me I divided it, chewed it and gave it to Allah's Apostle. Then he cleaned his teeth with it and (at that time) he was resting against my chest

{Sahih Bukhari}

Narrated Anas:
Allah's Apostle I said, "I have told you repeatedly to (use) the Siwak. (The Prophet put emphasis on the use of the Siwak.)
{Sahih Bukhari}


Blog EntryDec 3, '07 6:26 PM
for everyone
20 cm (large) natural extract from the commonly known salt bush, mustard tree or the toothbrush tree in a refreshing lime flavour. This miswak naturally contains many components such as fluoride, astringents, detergents, enamel protecting resins, which eliminate the need for any toothpaste. Simply scrape off the bark from the tip, then chew the tip gently until brush-like and the fibres become soft. Individually sesled to retain the natural freshness.

Blog EntryNov 26, '07 10:21 PM
for everyone
Buku Miswak 62 halaman. Ditulis oleh Maulana Athhar Husein. Tidak diperjual belikan. Hadiah kepada siapa yang memerlukan. Ambil sendiri di kantor pusat kamyabi www.kamyabinet.blogspot.com atau sila ganti ongkos kirim ke rek. BCA 8990132292 an Zubaidah
Buku dengan judul asli Fadhaili Miswak ini membahas al. Ayat Al Quran tentang siwak, siwak adalah sunnah para nabi, siwak termasuk thaharah, kegembiraan Allah atas siwak, wasiat Jibril as, bersiwak ketika puasa, siwak melipatgandakan pahala, ancaman bagi yang meninggalkan siwak, siwak menurut pandangan sahabat, siwak menurut pandangan ulama, adab-adab bersiwak, kayu apa yang paling baik, cara memegang siwak, doa bersiwak, dll.

Persediaan TERBATAS... silakan pesan sekarang juga (27 November 2007)
Pesanan via SMS 08128606692 atau email: kamyabi@cbn.net.id

Sila surving juga: www.produksunnah.blogspot.com